Mengapa Kepercayaan Tidak Cukup
Sebagian besar tim pendiri memulai dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Ini justru yang sering membuat mereka menunda atau menghindari diskusi tentang hak dan kewajiban masing-masing. Rasanya tidak perlu karena 'kita sudah saling kenal'.
Masalahnya, kepercayaan tidak menyelesaikan pertanyaan praktis yang akan muncul seiring bisnis berkembang: siapa yang berhak memutuskan ketika para pendiri tidak sepakat, bagaimana jika satu pendiri ingin keluar sementara bisnis sedang tumbuh, apa yang terjadi dengan kepemilikan jika ada pendiri yang tidak lagi aktif berkontribusi, dan siapa yang mengontrol perusahaan jika terjadi deadlock.
Klausul Vesting: Paling Sering Diabaikan, Paling Krusial
Vesting schedule adalah ketentuan yang mengatur bahwa kepemilikan saham diperoleh secara bertahap seiring pendiri menjalankan komitmennya. Tanpa vesting, seorang pendiri bisa mendapatkan 40 persen kepemilikan perusahaan, berkontribusi selama tiga bulan, lalu pergi sambil tetap mempertahankan seluruh kepemilikannya.
Dalam Co-Founder Agreement yang baik, vesting biasanya dirancang selama empat tahun dengan cliff satu tahun: tidak ada saham yang diperoleh dalam tahun pertama, kemudian sisanya diperoleh secara proporsional selama tiga tahun berikutnya. Ini melindungi semua pihak, termasuk pendiri yang tinggal.
Mendiskusikan Co-Founder Agreement di awal bukan tanda ketidakpercayaan. Justru sebaliknya, ini adalah tanda bahwa Anda cukup serius untuk membangun sesuatu yang bertahan lama.
Hak dan Kewajiban Masing-Masing Pendiri
Dokumen ini juga harus secara eksplisit mengatur peran, tanggung jawab, dan otoritas pengambilan keputusan masing-masing pendiri. Siapa yang memimpin bidang teknologi, siapa yang bertanggung jawab atas operasional, dan siapa yang mengelola keuangan.
Yang lebih penting adalah mengatur bagaimana keputusan strategis diambil ketika para pendiri tidak sepakat. Tanpa mekanisme ini, deadlock bisa melumpuhkan perusahaan pada momen yang paling kritis.
Apa yang Terjadi Jika Seorang Pendiri Pergi
Ini adalah pertanyaan yang paling tidak nyaman untuk didiskusikan, dan justru karena itu paling sering dilewati. Padahal situasi ini sangat umum terjadi: seorang pendiri memutuskan untuk keluar, mendapat tawaran pekerjaan lain, atau tidak mampu lagi memenuhi komitmen waktunya.
Co-Founder Agreement harus mengatur hak pembelian kembali saham, mekanisme valuasi untuk menentukan harga buyback, dan apakah pendiri yang keluar masih memiliki hak suara atau tidak. Tanpa ketentuan ini, pendiri yang tidak aktif bisa tetap memblokir keputusan penting perusahaan.
Mendiskusikan Co-Founder Agreement di awal bukan tanda ketidakpercayaan. Justru sebaliknya, ini adalah tanda bahwa Anda cukup serius untuk membangun sesuatu yang bertahan lama.
Unduh Perjanjian Co-Founder
Template Perjanjian Co-Founder dari LegalKit Indonesia mencakup ketentuan vesting, mekanisme pengambilan keputusan, hak pembelian kembali saham, dan klausul-klausul kritis lainnya yang sering diabaikan oleh tim pendiri.
Lihat Template