Mengapa Verbal Agreement Tidak Cukup

Dalam hukum perdata Indonesia, perjanjian lisan pada dasarnya diakui keabsahannya. Masalahnya ada di pembuktian. Ketika terjadi sengketa dan masing-masing pihak memiliki versi yang berbeda tentang apa yang disepakati, tidak ada cara untuk membuktikan mana yang benar tanpa dokumen tertulis.

Investasi waktu dan uang dalam bisnis bagi hasil tanpa perjanjian tertulis berarti seluruh kontribusi Anda bergantung pada ingatan dan itikad baik pihak lain. Ini bukan risiko yang perlu diambil ketika solusinya sederhana dan terjangkau.

Yang Harus Diatur dalam Perjanjian Bagi Hasil

Perjanjian bagi hasil yang memadai harus mengatur secara eksplisit definisi keuntungan yang akan dibagi: apakah keuntungan bersih setelah semua biaya, atau keuntungan kotor sebelum biaya tertentu. Perbedaan definisi ini sering menjadi sumber konflik yang tidak pernah terpikirkan di awal.

Selain itu harus diatur kontribusi masing-masing pihak secara spesifik, mekanisme pelaporan keuangan dan frekuensi pembagian hasil, hak audit masing-masing pihak, dan apa yang terjadi jika bisnis mengalami kerugian. Perjanjian yang hanya mengatur pembagian keuntungan tanpa mengatur kerugian adalah perjanjian yang tidak lengkap.

Semakin baik hubungan bisnis Anda saat ini, semakin mudah mendiskusikan dan menyepakati perjanjian bagi hasil yang adil. Jangan tunggu sampai ada masalah.

Pengaturan Aset dan Kekayaan Intelektual

Siapa yang memiliki aset yang dibeli menggunakan hasil usaha bersama? Siapa yang memiliki merek, nama usaha, atau platform digital yang dikembangkan bersama? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab di awal karena jawabannya akan sangat menentukan posisi masing-masing pihak ketika kerja sama berakhir.

Dalam banyak kasus, salah satu pendiri yang lebih paham teknologi membangun platform digital atas nama bisnis bersama, namun ketika terjadi perpisahan mengklaim platform tersebut sebagai milik pribadinya. Tanpa perjanjian yang mengatur kepemilikan aset secara eksplisit, situasi ini sangat sulit diselesaikan.

Mekanisme Keluar yang Adil

Setiap perjanjian bagi hasil harus memuat mekanisme yang jelas untuk mengakhiri kerja sama. Bagaimana valuasi aset bisnis dilakukan ketika salah satu pihak ingin keluar, siapa yang memiliki hak untuk membeli bagian pihak lain, dan bagaimana transisi dilakukan tanpa mengganggu operasional bisnis.

Mekanisme keluar yang tidak diatur terlebih dahulu hampir selalu berujung pada negosiasi yang panjang dan menyakitkan, atau bahkan sengketa hukum yang mahal. Mengatur hal ini di awal, ketika hubungan masih baik, adalah keputusan paling bijak yang bisa diambil.

Semakin baik hubungan bisnis Anda saat ini, semakin mudah mendiskusikan dan menyepakati perjanjian bagi hasil yang adil. Jangan tunggu sampai ada masalah.

Unduh Perjanjian Bagi Hasil Usaha

Template Perjanjian Bagi Hasil Usaha dari LegalKit Indonesia mencakup definisi keuntungan yang dapat disesuaikan, mekanisme pelaporan, ketentuan kepemilikan aset, dan klausul keluar yang berimbang untuk semua pihak.

Lihat Template